Sabtu, 22 Maret 2014

Biografi Kang Darso



Darso

Pepek Hendarso atau nama beken nya yang lebih dikenal oleh masyarakat yaitu Kang Darso, lahir di Bandung 12 Agustus 1945 dan meninggal di Bandung 12 September 2011 pada umur 66 tahun). Beliau adalah salah satu tokoh seniman sunda, penyanyi Pop Sunda yang sudah banyak menghasilkan karya, kurang lebih 300 judul lagu sudah di buatnya selama lebih 45 tahun dari lagu-lagu tersebut sebagian di rekam di studio dan sebagian lagi di rekam sewaktu manggung, Dalam membawakan lagu nya Kang Darso setia membawakan alunan musik calung,yaitu  alat musik dari bambu, yang kemudian dipadukannya dengan dangdut dan pop. Diantara lagu-lagu nya yang terkenal antara lain lagu Duriat, Dina Amparan Sajadah, Ararateul (Cucu Deui), randa geulis, maribaya, Tanjakan Burangrang, Kabogoh Jauh, Mawar Bodas, anak jeger dulang kuring, batrawali, dulang kuring dan masih banyak lagi yang lainnya. Di panggung, Darso tampil beda, yaitu tampilan nya yang khas rambut gondrong memakai setelan jas dan kaca mata hitam  dan tak jarang kalo lagi nyanyi suka menjulirkan lidah.

Awal karir nya di mulai sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Dan sempat juga bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti karena terkena imbas sewaktu peritiwa G 30 S PKI, Kemudian pada tahun 1968 beliau memulai lagi kariernya l bersama sang kakak Uko Hendarso menggarap musik dengan instrumen utama yaitu "calung" salah satu lagu yang diminati waktu itu "kiamat'.

Atas arahan S. Hidayat Darso diajak untuk tampil pada RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Di bawah Asmara Record memulai rekaman di atas pita kaset. beberapa lagu yang terkenal yaitu "kembang tanjung", "cangkurileung", dan "panineungan".
Pada tahun 90-an Nama Darso semakin popular  setelah TVRI sering menampilkannya. Darso juga mulai menggunakan jenis instrumen lain seperti terompet dan organ jenis musik yang dirambah selain pop sunda juga dangdut. Lagu-lagu yang terkenal pada masa itu hingga kini yaitu "randa geulis", "maribaya", "dina amparan sajadah", "kabogoh jauh"

Di balik gaya yang nyeleneh, Darso tetap menyimpan harapan. Salah satunya, ia prihatin dengan perhatian pemerintah terhadap musik tradisional. Pemerintah hanya bicara soal melestarikan kesenian daerah, tetapi tak banyak hal yang dilakukan untuk mewujudkannya.

Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar yang sewaktu itu di jabat oleh Dany Setiawan berupa Anugrah Musik Jabar 2005, dan Anugrrah Budaya Kota Bandung Pada Tahun 2009 Dari Wali Kota Bandungpenghargaan dari Walikota Bandung Dada Rosada.

Kang Darso meninggal dunia pada Senin, 12 september 2011 pada usia 66 tahun. Darso diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah Soreang, Jawa Barat, Penyebab kematiannya belum diketahui.